
Dalam dinamika masyarakat Bali yang senantiasa diwarnai oleh perubahan sosial, spiritual, dan ekonomi, buku ini hadir sebagai upaya memahami lebih dalam bagaimana praktik keagamaan tidak pernah statis, melainkan terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman. Pergeseran Ritual Sapuh Leger dari format individual menuju bentuk massal di Pura Siwa Manik Dalang adalah cermin dari proses adaptasi yang berlangsung halus namun fundamental, memperlihatkan bagaimana tradisi yang berakar ribuan tahun tetap mencari relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern yang kompleks. Melalui penelitian yang memadukan pengamatan etnografis, wawancara mendalam, serta telaah mendalam terhadap lontar dan ajaran strukturasi Anthony Giddens, buku ini mencoba menghadirkan gambaran utuh mengenai relasi antara agen-agen sosial, struktur budaya, dan dinamika perubahan ritual. Dengan demikian, pembaca diharapkan tidak hanya memahami fenomena ini secara permukaan, tetapi juga melihat bagaimana lapisan-lapisan makna, legitimasi, dan rasionalitas bekerja bersama dalam membentuk ritual yang tetap sakral meski bentuknya berubah, memastikan nilai spiritual tetap bertahan dalam arus zaman.
Pada saat yang sama, buku ini juga berupaya memperlihatkan bahwa transformasi pelaksanaan ritual bukanlah bentuk penyimpangan dari tradisi, tetapi justru ekspresi keberlanjutan tradisi itu sendiri dalam menghadapi tuntutan ekonomi, mobilitas sosial, dan kebutuhan kolektif yang semakin meningkat. Proses reproduksi Ritual Sapuh Leger dalam bentuk massal menunjukkan bagaimana masyarakat Bali mengelola ruang dialog antara nilai-nilai lama dan kebutuhan baru, antara rasa hormat pada warisan leluhur dan pencarian format yang lebih inklusif serta efisien bagi umat Hindu yang lahir pada Wuku Wayang. Di sinilah buku ini berharap memberikan kontribusi: menghadirkan pemahaman yang tidak hanya akademis, tetapi juga humanis—mengakui bahwa ritual bukan semata kewajiban religius, melainkan ruang di mana manusia menegosiasikan identitas, merawat kebersamaan, serta mencari ketenangan batin di tengah dunia yang terus berubah. Harapan kami, kehadiran buku ini dapat menjadi bahan refleksi, inspirasi, sekaligus rujukan akademis bagi peneliti, pemangku kepentingan adat, pemerhati budaya, serta masyarakat luas yang ingin memahami bagaimana tradisi tetap hidup, berdenyut, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan roh utamanya.
Penulis
1. I Putu Mardika
2. Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara
3. Komang Agus Darmayoga Kantina
Jumlah Halaman 158
Ukuran buku 14.8 x 21
ISBN:
Harga: Opsional


